17 Desember 2015
Comments 0
Category Artikel
17 Desember 2015, Comments 0

Sekolah Hidayatulah – Judul ini saya ambil dari sebuah media online ternama. Judul ini cukup membuat penasaran. Kata jantung membuat orang akan bertanya, “apa itu jantungnya kampus?”, dan jawabannya sangat lugas. Perpustakaan.

 

Perpustakaan itu “Gudang”nya buku. Sebenarnya saya pakai kata gudang kurang elok. Tapi bagaimana lagi, saat ini perpustakaan di beberapa tempat, mulai kampus universitas maupun sekolah, kondisi perpustakaan lebih tepat disebut gudang. Tempat menimbun barang yang hanya akan dikunjungi jika ada waktu. Itu pun bisa sebulan sekali. Atau mungkin setahun sekali. Kecuali gudang barang dagangan.

 

Miris kadang jika melihat kondisi ruang perpustakaan di beberapa tempat yang saya sebut di atas. Kenapa? Sejak zaman sahabat nabi, keberadaan buku menjadi vital. Mendokumentasikan berbagai ilmu itu ya lewat buku. Tempat menyimpan dokumen yang terbukukan itu dimana? Wajarnya di perpustakaan.

 

Saya mencoba melihat sejarah. Para salafushaleh begitu cinta baca dan menulis. Mereka juga cinta dengan perpustakaan walau pun pada zaman itu perpustakaan belum senyaman sekarang. Tapi gegap gempita mencari ilmu itu ada. Sekarang?

 

Mari kita intip lalu lintas perpustakaan di lembaga pendidikan masing-masing. Seberapa hebat kuantitas orang yang sekedar mau sambang ke perpustakaan. Kalau pun ada hanya cari tempat buat “ngadem” atau cari tempat aman buat tidur karena tidak ada jam.

 

Peprustakaan di Dresden, Berlin, Jerman

 

Tidak salah mungkin perilaku sebagian oknum yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat melepas lelah. Bukan melelah-lelah mencari ilmu. Bisa ditengok bagaimana “kelakuan” pejabat di kampus (universitas atau sekolah) yang sama sekali tidak memerhatikan nasib perpustakaan.

 

Padahal saya sempat mendengar tausiyah dari Dr. Syamsudin Arif, salah satu peneliti INSIST  ketika berkesempatan bertemu muka dengan jajaran guru dan pegawai di Pesantren Hidayatullah Surabaya, background slide pertama yang beliau tampilkan bagaimana adalah kampus, sekolah di Eropa begitu memuliakan perpustakaan sebagai sumbernya ilmu.

 

Tidak sekadar disitu, mereka juga merancang desain bangunan perpustakaan mengalahkan kondisi sekolahnya sendiri. Hal ini mengisyaratkan apa? Bahwa orang Barat begitu menjadikan ilmu sebagai bagian dari hidup. Kita? Sekali lagi silakan tengok perpustakaan di institusi kita?

 

Biasanya perpusatkaan ditempatkan di ujung ruangan yang gelap dan sangat susah di akses. Ada yang lebih miris, dicarikan ruangan sisa. Artinya jika tidak ada ruang tersisa, tidak perlu ada perpustakaan. Bagaimana budaya baca di negeri ini meningkat. Wong, sekolah, kampus, pesantren saja sudah mulai melupakan perpustakaan sebagai salah satu pencarian ilmu.

 

Mereka (orang Eropa) haus ilmu. Padahal sumber ilmu yang tersimpan di perpustakaan mereka itu hampir kesemuanya dari ilmuwan Islam. Mereka berusaha mendokumentasikan. Tidak berhenti disitu dengan merancang kondisi perpustakaan yang demikian bagus, manusia yang berada di lingkungan kampus, sekolah, akan dengan sigap menyambut ajakan secara tidak langsung tersebut.

 

Nah, seandainya perpustakaan di kampus, sekolah, universitas kita itu seindah dan senyaman mungkin mungkin. Sekaligus ada ajakan kewajiban membaca di perpustakaan, betapa indahnya suasana pencarian ilmu di kampus kita. Tanpa perlu branding, publishing kesana-kemari, budaya baca dengan dukungan kondisi perpustakaan yang super representatif menjadi nilai sendiri bagi masyarakat.

 

Sekali lagi, jangan salahkan manusia di kampus, sekolah, universitas enggan sambang ke perpustakaan. Buat indah, nyaman perpustakaan kita. Anggap penting perpustakaan. Jadikan perpustakaan bukan sekedar ada, tapi kebutuhan vital dalam sebuah lembaga pendidikan.

 

Ingat bagaimana para guru, ustadz begitu semangat bercerita kepada muridnya tentang begitu hebat semangat para menulis, membaca, mencari ilmu, tapi disisi lain, kenyataan yang ada, dukungan itu tidak berbanding lurus.

 

Selamat datang, perpustakaan hebat, indah, nyaman di sekolah, universitas. Semoga!!! Jika membangun gedung bermilyar-milyar sanggup, maka seharusnya sangat sanggup mengadakan perpustakaan yang super representatif. SUPER, Pak Mario Teguh, saya pinjam jargon anda di artikel pendek ini. Syukron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *